Oleh: Maslihan Mohammad Ali, Lc., M.Ag
DOSEN IPMAFA PATI
Nahdlatul Ulama adalah organisasi yang membumikan Islam ahlussunnah wal jamaah yang mengikuti system bermadzhab. Bermadzhab berarti mengikuti metode dan produk pemikiran Imam Mujtahid yang paling populer ada empat, yaitu Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Muhammad Idris As-Syafii, dan Imam Ahmad bin Hambal.
Namun, mujtahid sebenarnya ada stratifikasinya. Mohammad Abu Zahra dalam Tarikh al-Madzahib al-Islamiyah, Cairo: 1996, menuturkan tingkatan mujathid. Adapun uraainnya sebagai berikut:
Pertama, Mujtahid Muthlaq/Mustaqil ialah fuqoha yang melakukan istinbath al-ahkam langsung dari nash al-qur’an dan sunnah, fuqoha yang berijtihad dengan men-qiyas-kan sesuatu yang belum diketahui hukumnya kepada suatu hukum yang didukung nash, fuqoha yang berfatwa dengan pendapatnya untuk sebuah kebenaran dan kemashlatan, dan fuqoha yang memberikan hukum berdasarkan istihsan ataupun akal dalam penentuan pendapatnya yang tidak bertentangan dengan nash. Mereka adalah: a] fuqoha at-tabi’in seperti Said bin al-Musayyab (15-94 H/636-712 M), Ibrahim an-Nakha’iy (…), b] fuqoha ashab al-madzahib seperti Imam Ja’far ash-Shadiq, Imam Abu Hanifah bin Nu’man (80-150 H/699-767 M), Imam Malik bin Anas (93-197 H/712-795 M), Imam asy-Syafi’i (150-204 H/767-820 M), al-Auza’iy, al-Laits bin Sa’d, Sufyan ats-Tsauriy. Tahap pertama ini menurut (Abu Zahro: 1996; 336) adalah tahapan ijtihad pada keseluruhan ushul dan furu’ (ijtihad kamil mawfur).
Kedua, Mujtahid Muntasib ialah fuqoha yang memilih penetapan hukum sesuai ushul al-istinbath-nya imam madzhab namun mereka ikftilaf dengan imam madzhab dalam menetapkan furu’-nya. Seperti Kholid bin Yusuf as-Samniy, Hilal, al-Hasan bin Ziyad al-Lu’luaiy, ath-Thahawiy (W 321 Ĥ), al-Karkhiy, dan Abu bakar al-Ashom dalam madzhab Hanafiy; al-Muzaniy (175-264 H/791-878 M) dalam madzhab Syafi’iy; Abdurrahman bin al-Qasim, Ibnu Wahb, Asyhab, Ibnu Abdul Hakim dalam madzhab Maliky. Tahap kedua ini menurut (Abu Zahro: 1996; 336) adalah tahapan ijtihad khusus keseluruhan furu’ tanpa meninggalkan ushulnya (ijtihad fi al-furu’ muthlaq wa laisa fi al-ushul).
Ketiga, Mujtahid Madzhab ialah fuqoha yang selalu mengikuti dan tidak ada ikhtilaf dengan imam madzhabnya dalam istinbath al-hukm sesuai ketentuan furu’ dan ushul-nya terhadap masalah yang muncul tanpa adanya pendapat imam madzhabnya. Jika terjadi ditemukan ikhtilaf pada mereka itu hanya terbatas pada ikhtilaf zaman bukan ikhtilaf dalil wa burhan. Mereka berijtihad dalam dua ruang lingkup sebagai berikut: a] menetapkan rangkuman kaidah-kaidah yang selalu dipakai oleh imam-imam sebelumnya dan mengumpulkan adh-dhawabith al-fiqhiyah yang terdiri dari beberapa ‘illat al-qiyas yang dipakai imam dalam isthinbath/istikhraj. b] melakukan istinbath al-ahkam terhadap sesuatu yang belum ditetapkan menjadi nash dalam madzhabnya. Kegiatan mereka mampu menguatkan corak fiqh madzhab, dan meletakkan prinsip dasar dan takhrij untuk menumbuh-kembangkan madzhabnya dalam melakukan pilihan unggul pendapat yang benar dan mepertimbangkan pendapat yang lemah dalilnya. Hal ini berlaku di masing-masing madzhab. Tahap ketiga ini menurut (Abu Zahro: 1996; 336) adalah tahapan ijtihad khusus dalam menemukan ‘illat al-qiyas dan asbab al-ahkam.
Keempat, Mujtahid Murajjih/ahlu at-takhrij dan ahlu at-tarjih ialah fuqoha yang melakukan istinbath ahkam furu’ yang belum dilakukan ijtihad dan ditetapkan hukumya oleh imam madzhab, maka mereka tidak mampu ber-istinbath menemukan hukum terhadap masalah yang belum diketahui hukumnya. Akan tetapi mereka dapat: a] melakukan takhrij hukum berdasarkan kaidah-kaidah istinbath yang ditetapkan oleh imam madzhabnya; b] meninggalkan pendapat lemah (ra’yu marjuh) guna memilih pendapat unggul (ra’yu rajih) yang didukung oleh kuatnya dalil dan benarnya pendapat sesuai nash, qiyas, dan mashlahat untuk diaplikasikan oleh manusia sesuai keadaan waktu dan tempat. Tarjih ini berlaku untuk beberapa pendapat yang sesuai ketentuan ushul al-istinbath tanpa mengurangi ketentuan istinbath ahkam al-furu’ yang belum ditetapkanya hukum oleh imam madzhab. Tahap keempat dan kelima ini menurut (Abu Zahro: 1996; 336) adalah tahapan ijtihad khusus dalam men-takhrij riwayat yang unggul dan menentukan pilihan pendapat yang unggul.
Empat stratifikasi mujtahid ini mendorong kader-kader muda NU sekarang ini untuk mengkaji pemikiran madzhab secara utuh sehingga menghasilkan produk pemikiran yang matang, efektif dan kontekstual.
