NU Trangkil

Selamat Tahun Baru 2026 : Sampah Mencari Jalannya Sendiri

Foto Dokumentasi MWC NU Trangkil 2026

Selamat datang tahun baru 2026 Kawan! Di tengah gegap gempita pesta kembang api, doa, dan harapan baru, ada satu kenyataan pahit yang tetap menghantui: sampah tidak pernah mengenal hari libur, tapi dinas terkait bidang persampahan libur.

Gunungan sampah terus lahir setiap hari, dari rumah tangga, pasar, hingga pusat perayaan. Ironisnya, truk pengangkut sampah justru berhenti beroperasi saat tanggal merah. Akibatnya, sampah mencari jalannya sendiri: menebar bau tak sedap, mengundang lalat, merusak wajah wilayah, dan perlahan menggerogoti martabat peradaban.

Peradaban manusia sesungguhnya ditentukan oleh seberapa peduli kita terhadap tata kelola sampah dan kebersihan. Sampah bukan sekadar residu kehidupan, melainkan cermin dari keseriusan sebuah bangsa dalam mengurus hal-hal mendasar. Ketika pengelolaan sampah tunduk pada kalender libur, itu berarti kita sedang membiarkan masalah kecil tumbuh menjadi krisis besar.

Bandingkan dengan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Anak-anak boleh libur sekolah, tetapi kebutuhan gizi mereka tidak pernah libur. MBG tetap berjalan. Pertanyaannya: mengapa logika yang sama tidak berlaku untuk sampah? Jika gizi anak dianggap kebutuhan mendesak yang tidak boleh berhenti, maka kebersihan wilayah seharusnya diperlakukan sama. Sampah yang dibiarkan menumpuk bukan hanya soal estetika, tetapi juga kesehatan, lingkungan, dan martabat manusia.

Namun, di tengah kelalaian birokrasi, ada secercah harapan. LPBI NU MWC NU Trangkil melalui pengelolaan TPS Santri Bumi Telon mencoba mencari solusi. Mereka tidak menunggu pemerintah turun tangan, tetapi bergerak sendiri: mengelola sampah, mengedukasi masyarakat, dan membangun kesadaran bahwa sampah bisa diolah, bukan sekadar dibuang. Inisiatif lokal seperti ini menunjukkan bahwa perubahan bisa dimulai dari komunitas kecil, lalu menular menjadi gerakan besar.


Sampah memang tidak “seksi” untuk dijadikan proyek politik, berbeda dengan MBG yang secara matematis sangat menggiurkan. Namun, justru di titik inilah letak ujian kepemimpinan: berani mengurus yang dianggap remeh, tetapi menyangkut hajat hidup orang banyak.

Tahun baru seharusnya menjadi momentum refleksi. Jika kita ingin wajah wilayah kita dianggap layak, sehat, dan bermartabat, maka pengelolaan sampah harus ditempatkan sebagai kebutuhan mendesak yang tidak boleh tunduk pada kalender libur. Pemerintah harus ikut campur tangan secara serius memfasilitasi pengangkutan dan tata kelola sampah. Karena sampah, sekali dibiarkan, akan selalu menemukan jalannya sendiri—dan jalan itu jarang membawa kita pada peradaban yang lebih baik.

*

Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama