nutrangkil.com – Haul Masyayikh 1447 H akan digelar pada hari Kamis, 8 Januari 2026. Pada hari itu, masyarakat Guyangan dan sekitarnya bersama santri Mbah Thi akan menggelar Haul ke-26 KH. Salim Suyuthi, seorang ulama kharismatik yang telah meninggalkan jejak mendalam dalam dunia pesantren dan dakwah Islam. Acara akan dipusatkan di maqbaroh Desa Guyangan, tempat beliau dimakamkan bersebelahan dengan ayahandanya, KH. Suyuthi Abdul Qadir.
KH. Salim Suyuthi lahir pada 20 Agustus 1945 di Desa Guyangan. Beliau merupakan putra kedua dari pasangan KH. Suyuthi Abdul Qadir dan Hj. Tasr’iah, tumbuh dalam keluarga besar yang sarat dengan tradisi keilmuan dan religiusitas. Dari pernikahannya dengan Ny. Hj. Afifah, beliau dikaruniai lima putra-putri: Faiqoh, Siti Inayah, Ika Zakiyah, Suyuthi Salim, dan Mohamad Hasan Salim.
Perjalanan hidup KH. Salim penuh dengan dedikasi terhadap ilmu dan pengabdian. Sejak muda, beliau menimba ilmu di Pesantren Bahrul Ulum Tambak Beras, Jombang, sebelum kembali ke tanah kelahiran untuk mengabdi. Setelah wafatnya sang ayah, beliau dipercaya menjadi pengasuh kedua Pesantren Raudlatul Ulum Guyangan, meneruskan tradisi pendidikan Islam yang berakar kuat pada Al-Qur’an, Hadis, serta khazanah klasik dan kontemporer.
Dalam kiprahnya, KH. Salim dikenal dengan prinsip tafaqquh (memperdalam hukum Islam) dan tawarru’ (bermoral luhur). Beliau membuka jaringan pendidikan hingga ke luar negeri, menjalin kerjasama dengan universitas ternama seperti Al-Azhar Kairo dan Ummul Qurra Arab Saudi, sehingga banyak santri dan alumni pesantren berkesempatan melanjutkan studi ke jenjang internasional. Selain itu, beliau juga aktif di Rabithah Ma’ahid Islamiyyah (RMI) NU, serta menjalin hubungan luas dengan berbagai tokoh masyarakat dan organisasi.
Haul ke-26 ini akan diisi dengan rangkaian pembacaan manaqib Syeikh Abdul Godir Jailani, takhtimul qur’an bil ghoib, takhtimul qur’an bin nadhor, tahlil, dan sholawat burdah. Kehadiran santri Mbah Thi dan masyarakat Desa Guyangan dan sekitarnya menjadi bukti nyata bahwa warisan perjuangan KH. Salim Suyuthi tetap hidup, terjaga, dan terus menginspirasi generasi penerus.
Dengan haul ini, masyarakat tidak hanya mengenang wafatnya seorang ulama, tetapi juga meneguhkan kembali semangat perjuangan beliau dalam mendidik santri, membangun pesantren, dan memperluas khazanah keilmuan Islam.
