NU Trangkil

Tarling MWC NU Trangkil Putaran Kedua di Krandan

 

Foto Dokumentasi Tim Media Ansor Trangkil


nutrangkil.com _ Masjid Baiturrahman Desa Krandan menjadi pusat kegiatan Tarawih Keliling (Tarling) dan Santunan Yatim MWC NU Trangkil putaran kedua. Acara ini berlangsung penuh kekhidmatan dengan sambutan, laporan kegiatan, serta mauidhoh hasanah yang menguatkan semangat keagamaan warga NU Krandan.

Dalam sambutannya, Ketua Ranting NU Krandan, H. Musthofa, Lc., menyampaikan bahwa masyarakat Krandan sangat kental dengan amaliyah NU. Walau tidak semua memiliki Kartanu, hampir seluruh warga menjalankan tradisi NU seperti tahlilan hingga tujuh hari. Di Krandan, tahlilan dilaksanakan dengan sederhana tanpa suguhan besar atau berkatan setelah hari ketujuh, demi meringankan keluarga yang berduka.

Beliau juga menegaskan bahwa kegiatan pitulasan Hijriyah rutin diisi dengan khataman Al-Qur’an bergilir di masjid dan lima mushola, sekaligus menjadi wadah menyerap aspirasi warga. Program Koin NU dari UPZISNU berjalan aktif, bahkan telah memiliki mobil serba guna yang lebih sering dipakai untuk mengantar jenazah. Semua kebutuhan jenazah, mulai dari kain kafan hingga perlengkapan lain, telah tercukupi berkat dukungan UPZISNU dan desa.

Sambutan dari MWC NU Trangkil disampaikan oleh Wakil Ketua, K. Fuad Said. Ia mengucapkan terima kasih atas kekompakan warga NU Krandan dalam menerima agenda tarling. Menurutnya, semangat kebersamaan ini menjadi bukti nyata bahwa NU Krandan mampu menjaga tradisi sekaligus memperkuat ukhuwah Islamiyah.

Acara dilanjutkan dengan mauidhoh hasanah oleh Dr. H. Jamal Makmur, MA. Beliau menekankan pentingnya menghidupkan sunnah Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan sehari-hari. Ada tiga poin utama yang disampaikan:

Pertama, Menggalakkan ngaji – Ngaji lebih utama dari pada memerdekakan seribu budak. Menurut Kyai Said Aqil Siroj, umat Islam wajib alim, sementara Prof. Quraish Shihab menegaskan bahwa iqro adalah kunci membangun peradaban.

Kedua, Menyantuni yatim dan fakir miskin – menyantuni mereka bukan sekadar anjuran, melainkan bagian dari hak sosial yang wajib ditunaikan.

Ketiga, Menghidupkan masjid – Masjid NU jangan sampai sepi. Caranya dengan mengadakan ngaji kitab kuning di masjid-masjid NU agar syiar Islam tetap hidup.

Kegiatan tarling dan santunan yatim di Krandan ini menjadi bukti nyata bahwa NU hadir tidak hanya sebagai organisasi, tetapi juga sebagai pengikat spiritual, sosial, dan budaya masyarakat. Dengan dukungan warga yang kompak, NU Krandan terus menjaga tradisi amaliyah, memperkuat ukhuwah, dan menghidupkan sunnah Nabi di tengah masyarakat.

*

Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama